Rabu, 10 Maret 2010

PROSEDUR PENGANGKUTAN BIBIT RUMPUT LAUT


Alternatif pengangkutan bibit Rumput Laut Eucheuma cottoni


A.Melalui transportasi darat

Lama perjalanan darat 6-20 jam

1.Pengangkutan dilakukan menggunakan truk sesuai dengan kapasitas bibit (4-8 ton).

2.Dasar bak truk di alasi terpal besar sehingga menutupi seluruh bak truk.(terpal dimaksudkan agar bibit terhindar dari pengaruh hujan dan panas matahari)

3.Pada alas bak dilapisi lapisan busa (ukuran ketebalan 1-2 cm), yang sebelumnya dilembabkan dengan air laut (perlakuan ini dimaksudkan agar kondisi rumput laut tetap segar).

4.Bibit rumput laut dimasukan secara curah, setiap ketinggian lapisan bibit 30-50 cm dilapisi oleh lapisan busa yang sudah dilembabkan sampai dengan lapisan busa terakhir sebagai penutup.

5.Setelah bibit dimasukan ke dalam truk, selanjutnya bak truk ditutup rapat dengan lapisan terpal untuk menghindari panas matahari dan hujan.

6.Sesampai di lokasi. Bibit segera diadaptasikan dan diseleksi pada penampungan yang telah disiapkan di laut. Penampungan dapat menggunakan waring/jaring. Dan selanjutnya segera dilakukan penanaman.


B.Melalui transportasi udara

1.Wadah bibit menggunakan Styrofoam standar garuda, pada lapisan dasar dilapisi busa/kapas yang sudah dilembabkan dengan air laut.

2.Taruh bibit rumput laut yang telah diseleksi, setiap ketinggian lapisan bibit 10 cm dilapisi oleh lapisan busa/kapas yang telah dilembabkan. Kapasitas bibit per-wadah Styrofoam sekitar 10-17 kg.

3.Pada tutup Styrofoam diberi lubang kecil (ukuran jarum) untuk sirkulasi udara.

4.Sesampai di lokasi. Bibit segera diadaptasikan dan diseleksi pada penampungan yang telah disiapkan di laut. Penampungan dapat menggunakan waring/jaring. Dan selanjutnya segera dilakukan penanaman

PENGEMBANGAN RUMPUT LAUT


KELOMPOK PEMBUDIDAYA RUMPUT LAUT
TANDA TANGANI KERJASAMA KEMITRAAN



Jepara- Menindaklanjuti wacana awal mengenai kerjasama kemitraan budidaya rumput laut di pesisir Jepara Daratan, baru-baru ini telah dilakukan penanda tanganan kerjasama kemitraan antara CV. Kita Berdikari dengan 2 (dua) kelompok pembudidaya yaitu Kelompok Pembudidaya Bina Karya yang beralamat di Desa Bandengan dan kelompok pembudidaya sido makmur desa Teluk Awur. Kegiatan penandatangan dilakukan pada tanggal 27 Februari disaksikan oleh perwakilan Dinas, pihak perusahaan dan staf Direktorat Produksi-DJPB.

Rudi P, Direktur CV. Berdikari mengatakan bahwa kerjama kemitraan ini diharapkan akan berjalan secara berkelanjutan dengan mengutamakan keuntungan pada kedua belah pihak. Pada tahap awal rencana pengembangan pada dua lokasi yaitu perairan Bandengan dan Teluk Awur masing-masing seluas 1 Ha lahan budidaya dengan target produksi awal minimal sebesar 60 ton berat basah. Ditambahkan Rudi, pengembangan lahan tidak berhenti pada jumlah tersebut namun akan terus diupayakan untuk melakukan pengembangan lahan dengan sasaran jumlah pembudidaya yang lebih besar sehingga kedepan potensi lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Menurut Adi sasongko, Kasie Bina Usaha dan Budidaya Dislutkan Kab. Jepara, Pola kerjasama kemitraan ini diharapkan akan menjadi titik awal yang baik bagi pengembangan kawasan budidaya rumput laut di Pesisir Jepara Daratan. Sasaran awal pengelolaan lahan per-pembudidaya sebanyak 10 tali dengan kapasitas produksi sebesar 3 ton basah, nilai ini dianggap telah memenuhi target minimal kelayakan usaha per pembudidaya. Kerjasama kemitraan ini juga disambut baik para pembudidayaan, hal ini bias dilihat dari antusiasme masyarakat sekitar untuk melakukan budidaya rumput laut. Apalagi beberapa waktu lalu pembudidaya di Bandengan mampu melakukan panen dengan hasil memuaskan.

Kaitanya dengan akses pasar, kedua belah pihak sepakat bahwa jaminan pasar sepenuhnya akan dikoordinasikan oleh pihak perusahaan. Selain itu guna memantau kualitas hasil produksi, direncanakan akan dibangun unit penjemuran system para-para di sekitar lokasi budidaya.

Kamis, 14 Januari 2010

PENGENDALIAN HAMA PADA BUDIDAYA Eucheuma cottoni


Hama yang menyerang tanaman budidaya rumput laut berdasarkan ukuran hama dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu hama mikro (micro grazer) dan hama makro (macro grazer) (Doty, 1987)

Hama

Hama mikro

Merupakan organism laut yang umumnya berukuran panjang ≤ 2 cm, hidup menempel pada thallus tanaman rumput laut dan biasanya tidak tampak pada rumput laut yang sehat. Hama mikro yang sering dijumpai misalnya :

Larva Bulu Babi, organisme ini bersifat planktonik, melayang-layang di air dan kemudian menempel pada rumput laut. Organisme ini menutupi permukaan thallus dan menyebabkan thallus berwarna kuning

Larva Tripang, merupakan organism planktonis yang menempel dan menetap pada thallus rumput laut. Larva ini kemudian tumbuh dan menjadi besar. Larva teripang yang sudah besar dapat memakan thallus rumput laut dengan cara menyisipkan ujung-ujung cabang rumput laut ke dalam mulutnya

Lumut Kutu, berwarna coklat kehitaman dengan ukuran yang kecil seperti rambut, biasanya menempel dan menembus jaringan thallus rumput laut menyebabkan terhambatnya penetrasi cahaya matahari sehingga batang/thallus rumput laut membusuk dan rontok. Tingkat Penyebaran yang cepat dan menjadi penyebab kerusakan masal pada budidaya rumput laut.

Pengendalian terhadap hama mikro yaitu dengan intensif membersihkan rumput laut, khusus untuk hama lumut kutu dapat ditanggulangi dengan melakukan perendaman selama 2-3 menit dalam larutan rinso seperti yang dilakukan oleh pembudidaya rumput laut di Karimunjawa, Jepara. Pencegahan dilakukan dengan menentukan lokasi budidaya yang efektif terutama lokasi yang cukup dalam dengan arus yang cukup.

Hama makro

Beberapa hama makro yang sering ditemui menyerang rumput laut antara lain :

Ikan Beronang (siganus spp), merupakan hama perusak terbesar pada budidaya rumput laut. Benih ikan beronang mempunyai sifat bergerombol merupakan hama yang paling serius penyerangannya. Ikan ini menyerang seluruh thallus bagian luar, akibatnya rumput laut hanya tertinggal kerangkanya saja. Serangan ikan beronang bersifat musiman terutama pada musim benih, sehingga di setiap daerah waktu serangannyapun berbeda. Di pesisir Jepara ikan beronang menyerang pada bulan April-Juni. Penaggulangannya yaitu dengan mengatur waktu penanaman. Menggeser lokasi budidaya pada lokasi yang dalam, dengan cukup arus serta menghindar dari lokasi terumbu karang mampu meminimalisir dampak ikan beronang. Penanaman secara masal juga dapat mengurangi serangan hama ikann.

Penyu Hijau (Chelonia midas), merupakan hama yang merusak tanaman budidaya rumput laut yang paling ganas. Penyu hijau biasanya menyerang pada malam hari. Hama ini dapat memangsa habis tanaman budidaya pada areal yang tidak terlalu luas. Tanda-tanda tanaman rumput laut terserang penyu hijau adalah tanaman hanya tertinggal pada ikatan tali saja dan tampak bekas seperti dipotong benda tajam. Cara menaggulangi serangan penyu hijau terhadap tanaman rumput laut dilakukan dengan melindungi areal budidaya dengan jarring. Serangan akan tampak pada daerah tepi atau dekat dengan perbatasan perairan dalam. Pengalaman pembudidaya di Sekotong Lombok Barat, bahwa pemakaian metode rakit apung dengan jarak tanam antar tali ris yang rapat mampu mencegah serangan hama penyu hijau.

Bulu Babi (Diadema), merupakan hama yang merusak bagian tengah thallus. Serangan bulu babi dapat mengakibatkan bagian cabang-cabang utama thallus terlepas dari tanaman induk. Serangan bulu babi pengaruhnya relative kecil dan tidak terasa terutama pada areal budidaya yang cukup luas. Hama bulu babi tidak menyerang rumput laut yang jauh dari dasar perairan.

Bintang Laut (Protoneostes), merupakan hama yang mempunyai kemampuan memanjat pada tanaman rumput laut dan dapat menutupi cabang-cabangnya. Cabang yang ditutupi/ditempeli oleh bintang laut akan mati serta banyak percabangan yang patah. Serangan bulu babi pengaruhnya relative kecil dan tidak terasa terutama pada areal budidaya yang cukup luas. Hama bulu babi tidak menyerang rumput laut yang jauh dari dasar perairan.

Selasa, 12 Januari 2010

SEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA MENDAPAT PRIORITAS

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) akan mendorong Sektor Perikanan ini. Caranya dengan dengan meningkatkan anggaran untuk sektor ini. Kenaikan Produksi ikan budidaya merupakan program utama Kementeriaan Kelautan dan Perikanan sampai tahun 1014" kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

Semula anggaran untuk sektor perikanan budidaya ini hingga 2014 hanya 500 miliar. Tapi, anggaran ini akan mendapatkan tambahan lagi. " Dana sebagian unit lain dialihkan untuk mendukung produksi budidaya. "tambahnya.
Nantinya, DKP akan menyalurkan dana tersebut di antaranya untuk para pembudidaya ikan lele, ikan patin, kerapu, dan rumput laut.Fadel mengakui, dirinya memperlakukan secara istimewa perikanan budidaya ketimbang perikanan tangkap. Soalnya, perikanan budidaya memiliki masa depan yang lebih cerah dibanding dengan perikanan tangkap yang hanya tergantung pada sumber daya alam di laut.

Sementara itu, Made L. Nurdjana, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, menjelaskan, jumlah anggaran yang akan disalurkan tahun 2010 adalah 188 Miliar.
Menurut Made, tahun 2010 ini pertumbuhan produksi ikan budidaya masih akan relatif kecil karena program peningkatan produksi baru mulai dilaksanakan. "Secara keseluruhan tingkat kenaikan rata-rata tahun ini diprediksi mencapai 12%. Untuk rumput laut naik 4% sedangkan produksi udang windu naik 17%, jelasnya.

Pada tahun 2009 lalu, pemerintah menargetkan produksi rumput laut 2.574.000 ton, ikan patin 132.600 ton, lele 200.000 ton, ikan nila 378.300 ton, bandeng 291.300 ton, dan udang windu 123.100 ton. Nah, target tahun 2010 ini lebih tinggi lagi. Target produksi rumput laut, misalnya, meningkat menjadi 2.672.800 ton. Sementara, produksi ikan patin, lele, dan nila masing-masing menjadi 225.000 ton, 270.000 ton, dan 491.800 ton.

Sumber : Harian Kontan Tanggal 7 Januari 2010 Hal.13
KEMENTRIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN USULKAN PENAMBAHAN ANGGARAN DARI APBN

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kementerian KP) mengusulkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp 56.8 triliun dalam lima tahun ke depan. Nilai ini merupakan kenaikan 3.5 kali dari anggaran selama periode 2004-2009.

"Anggaran Kementerian KP tahun 2009 Rp 3.1 triliun terlampau kecil. Dibandingkan tabun 2009. sedikit lebih tinggi Rp 3.4 triliun dengan tingkat penyerapan 94%." kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad usai acara penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2010. di Jakarta. Rabu (6/1).

Untuk mengoptimalkan penggunaan APBN. kata Fadel. Kementerian KP akan fokus pada kegiatan-kegiatan yang memiliki dampak langsung terhadap upaya peningkatan produksi perikanan.

Kementerian KP,kata Fadel juga akan mendampingi kegiatan-kegiatan pengolaan sumber daya kelautan dan perikanan serta memantau pelaksanaan kegiatan di lapangan sehingga dapat mencapai sasaran yang ditetapkan.

Fadel mengatakan banyak aspek dari sektor kelautan dan perikanan selama ini tidak tersentuh APBN,di antaranya pulau-pulau terpencil dan infrastruktur pesisir. Selain itu, biaya aperasional kegiatan di laut dan pesisir serta biaya modalnya jauh lebih mahal dari kegiatan sama di darat.

Fadel rnengakui, kurangnya alokasi khusus untuk kementeriannya bisa menyebabkan laporan keuangan Kementerian KP tahun 2009 disclaimer. "Kami bertekad untuk memperbaiki anggaran dan pengalokasian keuangan Kementerian KP menjadi lebih efektif serta mengambil langkah yang baik dan benar. "ujar dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mendorong peningkatan produksi sektor kelautan dan perikanan Kementeria KP akan mengedepankan budidaya ketimbang perikanan tangkap. Hal sama juga terjadi dengan anggaran, di mana Kementerian KP akan fokus dengan budidaya. Tahun ini saja alokasi untuk anggaran bidang lain coba kami kurangi dan ditambahkan ke budidaya. Mudah-mudahan produksi budidaya tahun ini bisa melampaui penangkapan." ungkap FadeL

Untuk memajukan budidaya perikanan pihaknya akan membentuk paket-paket usaha dengan menggunakan dana bantuan sosial (bansos) dan kredit usaha rakyat (KUR). "Kementerian KP akan bekerja sama dengan UKM untuk membentuk paket-paket usaha. Misalnya, paket lele Rp 5 juta, Rp 10 juta, dan Rp 15 juta. Paket ini diperuntukkan bagi pelaku baru terutama para sarjana, " ujar Fadel.

Dirjen Budidaya Kementerian KP Made L Nurdjana menambahkan paket-paket usaha dengan sasaran wirausaha baru akan mendapatkan dana bansos, sedangkan wirausaha lama akan menggunakan KUR.

"Untuk wirausaha baru akan kami bantu denean paket-paket dari bansos. Tapi bagi yang sudah memiliki usaha budidaya, disarankan memakai dana KUR dengan bantuan Kementerian KP. Bagi wirausaha lama dinilai mampu meminjam ke bank karena mereka telah niemliki usaha sebagai agunan." jelas dia.(rad)


Sumber : Koran Investor Daily,7 Januari 2010 Hal.21

Jumat, 08 Januari 2010

BUDIDAYA RUMPUT LAUT KARIMUNJAWA BELUM OPTIMAL

Secara geografis karimunjawa merupakan wilayah kepulauan dengan potensi sumberdaya hayati yang melimpah. Menurut sumber data bahwa luas perairan yang potensial untuk pengembangan perikanan budidaya pada 4 pulau yaitu Karimunjawa, Kemujan, Parang, dan Nyamuk mencapai 7.100 Ha, dimana sekitar ≥ 80% layak untuk pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma cottoni. Rumput laut merupakan komoditas perikanan budidaya yang bernilai ekonomis tinggi dengan peluang pasar yang luas baik nasional maupun orientasi eksport dan dapat dibudidayakan secara masal.

Pengembangan rumput laut di Karimunjawa tidak terlepas dari peran figure seorang guru SD yang bernama Abdul Azis. Bermula dari support yang diberikan Dinas P&K Kabupaten Jepara lewat program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang membatu pendanaan untuk pemberdayaan masyarakat pesisir melalui kegiatan usaha budidaya rumput laut. Perannya sebagai guru sekaligus merupakan pionir kegiatan usaha budidaya rumput laut di Karimunjawa mampu mengantarkan kelompok “Bintang laut“ yang ia gawangi menjadi juara nasional pada tahun 2005. Abdul azis menyatakan sampai saat ini jumlah total pembudidaya yang tergabung dalam kelompoknya mencapai 380 pembudidaya yang tersebar di tiga Desa yaitu Karimunjawa, Pulau Nyamuk dan Pulau Parang dengan total produksi pada puncak musim tanam mencapai 60-100 ton kering/bulan dengan harga saat ini ditingkat pembudidaya sekitar Rp.7.500,-. “Sejauh ini kami mencoba konsinten untuk melakukan kegiatan budidaya rumput laut karena usaha ini sudah menjadi bagian penting mata pencaharian masyarakat Karimunjawa, selain itu permintaan pasar sudah jelas melalui PT. Indo carrageen”, tutur Azis. Ditanya mengenai permasalahan, beliau mengatakan hanya kendala penyakit musiman Ice-ice adapun kendala hama lumut sudah mampu diantisipasi lewat inovasi yang dilakukan anggotanya. Azis menambahkan bahwa masalah permodalan merupakan factor penting dalam rangka melakukan pengembangan lahan.

Belum optimal

Ditambahkan dia, saat ini jika dibandingkan dengan potensi lahan budidaya yang ada, lahan budidaya yang termanfaatkan untuk budidaya rumput laut masih terbilang kecil yaitu kurang dari 25%. Kondisi ini tentunya merupakan peluang sekaligus tantangan ke-depan dalam meningkatkan tingkat pemanfaatan lahan dan peningkatan kapasitas produksi. Selama periode tahun 2009 total produksi baru mencapai 360 ton dengan nilai jual mencapai 3,25 Milyar. Nilai ini tentunya akan mampu ditingkatkan mengingat potensi masih sangat besar. Sebagai gambaran bahwa untuk mendirikan sebuah pabrik pengolah karaginan skala menengah paling tidak dibutuhkan bahan baku rumput laut kering minimal 100 ton/bulan secara kontinyu. Saat ini hasil produksi rumput laut masih dieksport dalam bentuk gelondongan sehingga posisi tawar masih rendah.

Cocon,S.Pi Pendamping Teknologi DKP disela-sela memantau pengiriman hasil produksi rumput laut milik kelompok “Bintang Laut” Karimunjawa di Pelabuhan Kartini, mengatakan bahwa Karimunjawa masih membutuhkan penataan dalam hal kelembagaan baik kelompok, lembaga penunjang maupun pola rantai distribusi pasar. Kendala minimnya pemanfaatan lahan maupun kapasitas produksi akan mampu diantisipasi salahsatunya melalui penerapan centraliasai kawasan secara terintegrasi atau yang lebih dikenal dengan system kluster. “Langkah awal yang perlu dilakukan pihak pemerintah daerah adalah melakukan kajian terhadap indicator-indikator pendukung pola pengembangan, untuk kemudian dilakukan pemetaan terhadap unit-unit usaha pendukung budidaya rumput laut yang berpotensi untuk dikembangkan di Karimunjawa”. “ Saya rasa kalo masalah pendanaan yang menjadi permasalahan, jika ada komitmen dan konsep yang jelas, pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan akan merespon dengan baik seperti halnya yang telah diterapkan di Kabupaten Dompu NTB pada penerapan kluster rumput laut, tuturnya.


Sumber : Harian Suara Merdeka

Selasa, 05 Januari 2010

EVALUASI DAN TEMU LAPANG PERIKANAN BUDIDAYA


LAPORAN HASIL KEGIATAN EVALUASI DAN TEMU LAPANG PEMBUDIDAYA IKAN


I.PENDAHULUAN

Nama Kegiatan : Evaluasi dan Temu Lapang Perikanan Budidaya
Pelaksanaan : Senin 30 Desember 2009
Tempat : Aula BBU Dinas Kelautan dan Perikanan
Penyelenggara : UPP Perikanan Budidaya “Jepara Makmur Sejahtera”

Peserta :

1. Sekdin Kelautan dan Perikanan
2. Kasie Bina Usaha dan Budidaya Perikanan Darat
3. Kasie Bina Usaha dan Budidaya Perikanan Laut
4. PPTK Kawasan Perikanan Budidaya
5. Ketua dan Pengurus UPP Perikanan Budidaya
6. Perwakilan Kelompok Pembudidaya Ikan

II.ISI

Setelah melakukan rangkaian kegiatan yang meliputi pemaparan laporan akhir tahun dari PPTK Kawasan Perikanan Budidaya dilanjutkan diskusi dan pembahasan atas permasalahan yang dihadapi pada kegiatan pengembangan kawasan perikanan budidaya di Kabupaten Jepara, maka dapat disampaikan hasil rumusan kegiatan evaluasi dan temu lapang pembudidaya ikan sebagai berikut :

1.Secara umum target produksi belum mampu dicapai baik pada budidaya polikultur maupun rumput laut di sebagian besar lokasi budidaya, hal ini disebabkan tingkat pemanfaatan lahan serta skala usaha pembudidaya masih relatif kecil.

2.Perlunya Studi banding masalah teknis budidaya dan kelembagaan kelompok dengan konsep jelas yang difasilitasi Dinas maupun UPP.

3.Akan dilakukan kajian terhadap alternative budidaya di Pailus sehubungan pada budidaya rumput laut tingkat kelayakan lokasi rendah

4.Peran dan fungsi UPP harus lebih luas tidak hanya sebagai fasilitator administrasi Pokdakan namun demikian harus mencerminkan sebagai wadah usaha kelompok yang secara langsung mendukung kegiatan usaha budidaya kelompok.

5.Akan dilakukan re-strukturisasi organisasi UPP sehingga keberadaan struktur organisasi akan mewakili kebutuhan kelompok yang mencakup akses produksi, permodalan dan akses pasar.

6.Perlunya komitmen, persamaan persepsi dan kerjasama sinergi dari semua stake holder yang terlibat dalam usaha perikanan budidaya.

7.Perlunya membentuk konsep centralisasi kawasan pengembangan perikanan budidaya secara terintegrasi dari hulu ke hilir melalui penerapan system kluster. Sistem Kluster adalah mutlak diterapkan dalam rangka menjamin peningkatan produksi, produktivitas usaha serta sebagai penggerak ekonomi local.

8.Memaksimalkan peran pendampingan dalam membentuk kemandirian dan kelembagaan kelompok serta kelembagaan penunjang lain.

9.Peningkatan kapasitas produksi dan kapasitas usaha melalui penerapan pola kemitraan yang berkelanjutan. Peran pemerintah dalam hal ini perlu dalam rangka mengadvokasi agar kemitraan bisa berjalan secara baik.

10.Diversifikasi produk hasil perikanan budidaya pada lokasi pengembangan sehingga akan menaikan posisi tawar hasil produksi

11.Konsep pengembangan perlu dilakukan secara matang terlebih dahulu mulai dari kajian lokasi maupun kelembagaan kelompok sehingga bisa berkelanjutan dan tidak terkesan dipaksakan

12.Perlunya advokasi terhadap konflik kepentingan pada pemanfaatan zona perairan antara budidaya dengan nelayan tangkap.

13.Pemerintah Perlu membantu memfasilitasi pembentukan koperasi yang khusus memfasilitasi kebutuhan bidang perikanan budidaya terutama pada kawasan pengembangan yang potensial, hal ini penting dalam rangka membantu Pokdakan dalam mendapatkan akses produksi dan permodalan sehingga produktivitas dan kapasitas usaha akan meningkat.

14.Perlunya koordinasi secara berjenjang dan berkelanjutan mulai dari pelaku utama sampai dengan Dirjen Perikanan Budidaya dalam bentuk monitoring dan pelaporan secara berkala.

15.Pemerintah perlu segera mengadvokasi pola kemitraan dengan perusahaan pakan bandeng yang telah berjalan di Ujung watu dan clering, karena selama ini kemitraan justru banyak merugikan pembudidaya.

16.Perlunya dukungan sarana penunjang budidaya pada tambak bandeng dimana yang saat ini dibutuhkan Pokdakan bandeng di Ujung watu dan Clering adalah pompa air. Hal ini sangat diperlukan dalam menjamin sirkulasi media pemeliharaan.

17.Kegiatan evaluasi dan temu teknis perlu dilakukan secara berkala dan berkelanjutan yaitu minimal setiap panen di lokasi budidaya dan 1 tahun sekali secara bersama-sama sebagai agenda Dinas maupun UPP Perikanan Budidaya.


Sumber : PPTK Kawasan Perikanan Budidaya Kab. Jepara